Cerita Sex Vira Mulai Mendesah

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Vira Mulai Mendesah. Dia tipe cewek yang imut kulitnya putih , bersih dan mulus, sedangkan aku orangnya biasa saja aku sendiri saat ini kuliah di kedokteran UI, cewek yang aku taksir ini namanya Vira kita sama sama satu jurusan, suatu ketika saat Vira minta tolong untuk menjemput saat pulang kuliah, dan disaat itu aku bisa maen kerumahnya.

Cerita DewasaVira Mulai Mendesah

cerita sex Mahasiswi, cerita sex panas Mahasiswi, cerita sex terbaru Mahasiswi, cerita sex hot Mahasiswi, cerita sex foto mahasiswi cerita sex mesum mahasiswi cerita sex baru
Cerita Mesum Vira Mulai Mendesah
Dia langsung mengajakku untuk masuk kedalam rumahnya katanya rumahnya kosong, aku pun tidak menolak ajakannya, dan aku langsung duduk di sofa tempat ruang tamunya, dia berkata bentar ya kau ganti pakain dulu, kamu duduk disini aja”.
Nggak lama dia datang dengan baju kaos dan rok pendek sambilmembawa dua minuman dan duduk disamping aku. Buset, aku bisamencium harum tubuhnya dengan jelas. Dan terus terangtiba-tiba aku terangsang dan mulai membayangkan keindahan tubuh Vira bila tanpa busana. Nggak sadar, aku lama menataptubuh segarnya dan membuat Vira bingung.

"Kenapa sih Ben?" tanyanya.

Aku cepat-cepat sadar dari lamunan erotis aku.

"Nggak..., lo keliatan laen dari biasanya."

"Lain apanya Ben..?" sambil menumpangkan salah satu kakinya ke kakisatunya.

Buset.. itu paha putih banget. Birahi aku pun tambah terangkat.

Pikiran erotis aku mulai bergelora lagi, menghayalkan seandainya

aku bisa meraba-raba kemulusan pahanya."Heh..!"katanya sambil tertawa dan menepuk bahu aku, lalu"Ngeliat apaan hayo, ngeres deh lo!" Aku cuma bisa nyengir aja.

"San, panas ya disini?" sambil aku mengambil saputangandi kantong celana.

"Iya yah, lo udah mulai keringetan begini."Tiba-tiba aja dia ngelap keringet di dahi aku pake tisunya.Dalam keadaan berdekatan kayak gini, aku punya inisiatif untukmemeluk dan menciumnya.
Dan bener deh,...kejadian deh...

Vira sudah berada dalam pelukan aku, dan bibirnya sudah dalamlumatan bibir aku. Dia sama sekali tidak berontak dan mulaimemejamkan matanya menikmati percumbuan ini. Tangannyaperlahan berganti posisi menjadi memeluk leher aku. Tangan akuyang tadinya memegang pinggulnya, turun perlahan ke pangkalpahanya dan akhirnya...

Aku berhasil meraba merasakan betapa mulus dan lembutnya paha Vira.

Aku meraba naik turun sambil sedikit meremasnya. Rasanya rada bangga juga aku mulai bisa menyentuh bagian tubuhnya yang rada sensitif.

Sedang bibir kami masih saling berpagutan mesra dalam keadaan mata masih terpejam. Lama-lama aku merasa kurang afdol kalau hanya merababagian pahanya saja.Tangan aku mulai naik lagi. Sekarang aku kepingin bangetmenikmati buah dadanya yang padat. Pikiran aku udah melayang jauh.

Pelan tapi pasti aku mengangkat baju kaosnya untuk aku buka.

Dia nggak nolak, dan setelah aku buka bajunya, kelihatanlah buahdadanya yang masih terbungkus rapi oleh BHnya.

Aku lumat lagi bibirnya sebentar sambil aku bawa tangan aku ke belakangtubuhnya. Memeluk, dan akhirnya aku mencari kancing pengaitBHnya untuk aku lepas. Nggak lama terlepaslah BH pembungkusbuah dadanya.

Dan mulailah tersembul keindahan buah dadanya yang putih padat dengan puting kecoklatan diatasnya. Buu..ssee..tt..benar-benar merupakan tempat untuk berwisata yang paling indahdengan pemandangan yang menakjubkan di seantero jagat.

Aku bertambah gregetan melihat indahnya buah dada berukuran 34B yang terawat rapi selama ini.Akhirnya aku mulai meraba dan meremas-remas salah satu buahdadanya dan kembali aku lumat bibir mungilnya. Terdengar nafasVira mulai tidak teratur.

Kadang Vira menghembuskan nafasdari hidungnya cepat hingga terdengar seperti orang sedangmendesah.

Vira makin membiarkan aku menikmati tubuhnya.Birahinya sudah hampir tidak tertahankan.Saat aku rebahkan tubuhnya di sofa dan mulut aku siap melumatputing susunya, Vira menolak aku sambil mengatakan,

"Ben, jangan disini aah, dikamar aku aja!" ajaknya dan kemudian bangun,mengambil baju kaos dan BHnya di lantai dan berjalan menujukamar tidurnya. Aku ngikutin dari belakang sambil membuka bajuaku sendiri dan melepas kancing celana aku.

Begitu pintu ditutup dan dikunci, aku langsung meluk Virayang sudah topless dan kembali melumat bibir mungilnya danmelanjutkan meraba-raba tubuhnya sambil bersandar di tembokkamarnya. Lama-lama cumbuan aku mulai beralih ke lehernya yangjenjang dan menggelitik belakang telinganya.

Vira mulai mendesah pertanda birahinya semakin menjadi-jadi. Sakinggemesnya aku sama tubuh Vira, nggak lama tangan aku turun danmulai meraba dan meremas bongkahan pantatnya yang begitumontoknya. Vira mulai mengerang geli.

Terlebih ketika akulebih menurunkan cumbuan aku ke daerah dadanya, dan menujupuncak bukit kembar yang menggelantung di dada Vira.Dalam posisi agak jongkok dan tangan aku memegang pinggulnya,aku mulai menggerogoti puting susu Vira satu persatu yangmembuat Vira kadang menggelinjang geli, dan sesekali melenguhgeli.

Aku jilat, gigit, emut dan aku isap puting susu Vira,hingga Vira mulai lemas. Tangannya yang bertumpu pada dindingkamar mulai mengendor.Perlahan tangan aku meraba kedua pahanya lagi dan rabaan mulainaik menuju pangkal pahanya.

Dan aku mengaitkan beberapa jariaku di celana dalamnya dan.. srreet!!! Lepas sudah celanadalam Vira. Aku raba pantatnya, begitu mulus dan kenyal,sekenyal buah dadanya. Dan saat rabaan aku yang berikutnyahampir mencapai daerah selangkangannya..., tiba-tiba,

"Ben, di tempat tidur aja yuk..! Aku capek berdiri nih."

Sebelum membalikkan badannya, Vira memelorotkan rok mininya dihadapan aku dan tersenyum manis memandang ke arah aku.

Alamak, senyum itu... Bikin aku kepingin cepat-cepat menggumulinya.

Apalagi Vira tersenyum dalam keadaan bugil alias tanpa busana.

Buu..ssset khayalan aku benar-benar jadi kenyataan cing..!Vira mendekat ke aku sebentar dan tangannya dengan lincahmelepas celana panjang dan celana dalam aku hingga kini bukanhanya dia saja yang bugil di kamarnya. Batang kemaluan akuyang tegang mengeras menandakan bahwa aku sudah siap tempurkapan saja. Tinggal menunggu lampu hijau menyala.

Lalu Vira mengambil tangan aku, menggandeng dan menarik akuke ranjangnya. Sesampainya di pinggir ranjang, Vira berbalikdan mengisyaratkan agar aku tetap berdiri dan kemudian Viraduduk di sisi ranjangnya.

Oh buu..ssseet, Vira mengulum batang kemaluan aku dengan rakusnya.

Gila mak, lalu dia dengan ganasnya pula menggigit halus, menjilat dan mengisap batang kemaluan aku tanpa ada jeda sedikit pun.

Kepalanya maju mundur mengisapi kemaluan aku hingga terlihat jelas betapa kempot pipinya.

Aku berusaha mati-matian menahan ejakulasi aku agaraku bisa mengimbangi permainannya. Kadang aku meringis nikmatsaat Vira mengeluarkan beberapa jurus pamungkasnya dalammenyepong. Gila bener... uenakya kagak ketulungan cing..!!Ada mungkin 15 menit Vira mengisapi batang kemaluan aku, laludia melepas mulutnya dari batang kamaluan aku dan merebahkantubuhnya telentang diatas ranjang.

Aku ngerti banget maksudini cewek. Dia minta gantian aku yang aktif. Segera aku tindihtubuhnya dan mulai berciuman lagi untuk beberapa lamanya, danaku mulai mengalihkan cumbuan ke buah dadanya lagi, kemudianaku turun lagi mencari sesuatu yang baru di daerahselangkangannya.

Vira mengerti maksud aku. Dia segeramembuka, mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar membiarkanaku membenamkan muka aku di sekitar bibir vaginanya. Keduatangan aku lingkarkan di kedua pahanya dan membuka bibirvaginanya yang sudah memerah dan basah itu.

Oh... buusset, rupanya sewaktu dia mandi sudah bersihkan dan disabuni dengan baik sehingga bau vaginanya harum. Ditambah menurutpengakuannya, bahwa dia tadi meminum ramuan pengharum vagina.

Tanpa ba bi bu lagi, lidah aku julurkan untuk menjilati bibirvaginanya dan buah kelentit yang tegang menonjol.Gila mak, Vira menggelinjang hebat. Tubuhnya bergetar hebat.Desahannya mulai seru. Matanya terpejam merasakan geli dannikmatnya tarian lidah aku di liang sanggamanya.

Kadang pulaVira melenguh, merintih, bahkan berteriak kecil menikmatigelitik lidah aku. Terlebih ketika aku julurkan lidah akulebih dalam masuk ke laing vaginanya sambil menggeser-geser kekelentitnya. Dan bibir aku melumat bibir vaginanya sepertiorang sedang berciuman.

Vaginanya mulai berdenyut hebat,hidungnya mulai kembang kempis,dan akhirnya.."Ben.. ohh.. Ben.. udahh.. maaasuukin Ben..!!"

Vira mulai memohon kepada aku untuk segera mengentotinya. Aku bangun dari daerah selangkangannya dan mulai mengatur posisi diatastubuhnya dan menindihnya sambil memasukkan batang kemaluan akukedalam lorong vaginanya perlahan.

Dan akhirnya aku genjotvagina Vira yang masih perawan itu secara perlahan danjantan. Masih sempit, tapi remasan liangnya membuat aku tambahpenasaran dan ketagihan.Akhirnya aku sampai pada posisi paling dalam, lalu perlahanaku tarik lagi.

Pelan, dan lama kelamaan aku percepat gerakantersebut. Kemudian posisi demi posisi aku coba bareng Vira.Aku sudah nggak sadar berada dimana. Yang aku tahu semuanyasangat indah. Rasanya aku seperti melayang terbang tinggibersama Vira.

Yang aku tahu, terakhir kali tubuh aku dantubuh Vira mengejang hebat. Keringat membasahi tubuh aku dantubuhnya. Nafas kami sudah saling memburu. Aku ngerasa adasesuatu yang memuncrat banyak banget dari batang kemaluan akusewaktu barang aku masih di dalam kehangatan liang sanggamaVira. Habis itu aku nggak tahu apa lagi.

Sebelum aku tertidur aku sempet ngelihat jam. Alamak..! duasetengah jam. Waktu aku sadar besoknya, Vira masih tertidurpulas disamping aku, masih tanpa busana dengan tubuh masih seindah sebelum aku bersenggama dengannya.

Sambilmemandanginya, dalam hati aku, aku berkata, "Akhirnya aku bisajuga ngelampiasin nafsu yang aku pendam selama ini.

Thank's banget "San..., kalo nggak ada lo, aku kagak tau dehkemana aku bawa nafsu aku ini..." Aku kecup keningnya, laluaku segera berpakaian dan siap cabut dari rumah Vira setelahaku lihat jam di mejanya, mengingatkan aku bahwa sebentar lagikeluarganya bakal datang.

Aku kagak mau konyol kepergok lagibugil berduaan bareng dia. Apalagi masih ada noda darahperawan di sprei tempat tidurnya. Aku bangunin dia dan berkatabahwa lain kali sebaiknya kita main di villa aku, di Bogor,aja dengan alasan lebih aman dan bebas.
Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa
Read more ...

Cerita Sex Klimaks Bersama Githa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Klimaks Bersama Githa. Ngantuk banget rasanay di dalam pesawat yang hendak menerbangkanku dengan nada suara "Ladies and gentlemen welcome aboard flight SQ318 destination Los Angeles from Taipei. Blaaaa blaa blaa awal mula perjalanan ini pasti membosankan pikirku, tapi setelah aku menengok kanan wanita cantik duduk di sebelahku.

Cerita Dewasa Klimaks Bersama Githa

Cerita sex sahabat, cerita hot terbaru, cerita mesum terbaru, cerita sahabat terbaru, kumpulan cerita mesum terbaru, cerita sahabat terbaru hot, cerita mesum sahabat terbaru, cerita seks terbaru, cerita kenthu sahabat terbaru
Cerita Ngentot Klimaks Bersama Githa
Kulitnya putih manis mukanya rambutnya pendek kurang lebih kalau di tokoh kartun seperti sailarmoon, mataku tak berhenti di wajahnya tapi aku melihat dadanya yang tidak besar tapi menonjolkan putingnya sungguh keras dan kencang payudaranya ditambah lagi tubuhnya yang sempurna karena saat itu memakai kaos putih yang ketat.

Perutnya datar dan pinggangnya yang melekuk sungguh aduhai.Tak kusadari dia melihat ke arahku.

"Kok ngeliatin kayak gitu sih Mas?" Mukaku langsung merah padam menanggung malu. Aku gelagapan bilang, "Maaf Non habis kamunya cakep sih."

Di luar dugaan dia cuma tersenyum kecil. Sambil mengulurkan tangannya dia berkata, "Nama saya Githa, nama kamu siapa?" aku agak bengong sebentar tapi kemudian menjabat tangannya dan menjawab, "Eh.. nama saya Jonathan." Tangannya lembut sekali.

Pikiranku mulai ngeres. Wah enak sekali kalau yang dipegang itu kemaluanku. "Kok jabat tangannya nggak lepas-lepas sih?" aku tersentak lagi dan minta maaf. Aku mengambil majalah dan mulai membacanya untuk menutupi mukaku yang mulai merah menahan malu.

Aku memang boleh dibilang jarang ada pacar walaupun aku boleh dibilang lumayan. Kalau masalah seks, aku sih personal experience masih belum ada, cuma masturbasi saja pernahnya. Aku sudah ngebet sekali nge-seks dengan cewek tapi sampai sekarang peruntungan masih belum ada.

"Eh kamu pernah sekolah di SMP Muda bukan?" tanyanya secara tiba-tiba.

"Kamu kok tahu?"

"Tadi waktu ngeliat kamu rasanya aku pernah ngeliat kamu sih, apa lagi ngedenger nama kamu. Aku dulu pernah sekelas sama kamu."

"Tapi rasanya nggak ada yang namanya Githa di kelasku."

"Waktu itu aku belum ganti nama, waktu itu namaku Li Ruyin, inget nggak?" Aku seperti tersentak saja, si Li Ruyin itu pacar impianku, biarpun badannya tidak perfect tapi cantik sekali.

Tapi cewek yang di depan mataku ini kelihatannya lain sekali, jauh lebih cantik. "Oh kamu toh, gila, kamu beda banget. Kamu dulu kayak anak kecil saja, sekarang kayak bidadari saja," timpalku.Dia cuma tersipu saja, kemudian kami pun mulai menceritakan keadaan masing-masing.

Ternyata setelah lulus SMP, dia pergi ke Kanada untuk belajar di sana. Dari Kanada, dia berjalan-jalan ke Taiwan dan dalam perjalanan balik ke Kanada tapi bakal tinggal di L.A untuk sementara. Sementara di Kanada, dia tidak ada cowok, katanya sih tidak ada yang mengejar dia.

Gila, pikirku, cewek cakep, body perfect seperti dia tidak ada yang mengejar. Akhirnya makan malam pun mulai dihidangkan. Sebagai penumpang First Class, kami ditawari bermacam jenis arak dan anggur.

"Whisky please," ucapku kepada sang pramugari. Dia menuangkan segelas Whisky. Githa ternyata memilih untuk minum Brandy. Sewaktu makan malam dihidangkan, lampu mulai diredupkan. Tiba-tiba saja aku ada rasa untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya yang tak tersampaikan sewaktu di Surabaya.

"Yin, aku mau tanya nih tapi kamu jangan kaget ya..." Sambil tetap mengunyah dia menoleh ke arahku dan mengangguk.

"Yin, aku waktu di Muda dulu udah mulai suka sama kamu, tapi tidak ada kesempatan dan keberanian." "Jon, kamu mah gombal," jawabnya sambil meminum Whisky-nya.

"Yin, yang mau aku tanyain, kalau misalnya aku ngejar kamu gimana?" "Tergantung," jawabnya polos.Aku tidak banyak tanya lagi, kata "tergantung" sudah membuatku hilang semangat dan putus asa.

Akhirnya piring kami diambil kembali dan waktu telah agak malam dan aku sudah kepingin tidur. Aku minta selimut kepada pramugari pesawat itu dan Githa pun juga minta selimut.

Tapi pramugarinya kembali dan memberitahu kalau selimutnya tinggal satu saja tapi selimut ini cukup untuk dua orang.Akhirnya aku dan Githa share selimut itu dan tempat menaruh tangan di tengah kuangkat.

Aku masih tidak bisa tidur, memikirkan si Githa. Bagiku kata "tergantung" adalah sebuah tolakan halus yang menyakitkan. Pernah aku menunggu jawaban seorang cewek yang memberi kata "tergantung" tetapi ternyata dia sudah punya pacar.

Tiba-tiba saja aku merasakan kepala Githa di pundakku, rupanya dia tertidur dan tidak sengaja. Aku tatap wajahnya yang manis dan cakep itu. Bibir imutnya seakan menggodaku untuk menciumnya. Tetapi aku berhasil menahan nafsuku dan mulai membetulkan dudukku.

Aku menoleh lagi, seakan aku ingin sekali melihati dia terus. Akhirnya tanpa peduli resiko, tanganku, kutaruh di pinggangnya sementara tangan satunya kutaruh di belakang kepalanya dan kucium bibirnya. Tanpa diduga, lidahnya mulai menerobos bibirku dan akhirnya lidah kami berduel di dalam mulut kami.

Tangannya menarikku supaya lebih dekat. Akhirnya kami beristirahat untuk mengambil nafas. "Yin, apa sih maksudmu 'tergantung'?"

"Maksudku, tergantung kamu mau nggak ngejar aku. Kalau kamu mau, sih aku terima saja."Aku tercengang, ternyata tadi dia cuma main hard-to-get. Kucium dia sekali lagi tapi kali ini aku mulai ciumi juga lehernya dan kupingnya.

Tanganku juga mulai masuk ke dalam bajunya yang ketat itu. Akhirnya tanganku mulai menyentuh bagian dasar payudaranya, dengan satu gerakan mulus, tanganku mulai menggenggam payudaranya yang lentur itu.

Pentilnya yang sudah berdiri itu kumainkan dengan ibu jariku. Dia cuma mendesah kecil. Dia melepas ciuman kami dan di bawah selimut yang hangat itu dia melepaskan kaos dan BH-nya. Penumpang lain sudah tidur dan kami duduk di kursi paling belakang, sehingga tidak ada yang dapat melihat ataupun menduga apa yang kami lakukan.

Setelah itu kami pun mulai melanjutkan permainan kami yang gila ini. Tanganku mulai meraba masuk celananya tak dapat dikira, ternyata dia tidak memakai celana dalam. Tanganku mulai menelusuri "hutan" kemaluannya dan akhirnya menemukan klitorisnya yang juga telah berdiri seperti pentil payudaranya. Sewaktu tanganku menyentuh klitorisnya, dia bergetar sedikit.

Kubenamkan kepalaku di bawah selimut dan dengan lahapnya kuhisap dan kujilat pentilnya sementara tanganku sibuk bermain dengan klitoris dan liang kemaluannya. Desahannya mulai agak cepat dan aku mulai takut ketahuan dan tertangkap.

Jadi kucium dia sambil tanganku tetap bermain di kemaluannya. Akhirnya dia mendapat klimaks dan jeritannya cuma terdengar dalam mulutku. Ledakan klimaksnya sangat dahsyat dan tanganku dibanjiri oleh air bah klimaksnya seolah-olah seperti bendungan pecah keluar dari liang kemaluannya.

Celananya kini pun telah basah oleh air klimaksnya.Tanganku yang untuk pertama kalinya bermain dengan kemaluan cewek ini mulai pegal. Akhirnya kubetulkan posisi dudukku dan kupeluk dia. Dia memakai kembali kaosnya dan bersandar pada dadaku.

"Jon, kamu belum puas kan, aku puasin yah?" Aku mulai gelagapan, jangan-jangan si Githa mau main di pesawat. Aku tidak mau menanggung malu kalau ketahuan orang-orang, jadi aku bilang,

"Yin, kamu keliatannya capek, kamu istirahat saja, kamu kalau mau puasin aku boleh saja tapi nanti saja."Akhirnya pesawat kami tiba di Honolulu, Hawaii untuk mengisi bahan bakar.

Kami diperbolehkan menunggu di dalam pesawat ataupun turun pesawat dan melihat-lihat keadaan Hawaii dari ruang tunggu.

Aku dan Githa turun pesawat dan ke ruang tunggu. Kami punya 2 jam untuk jalan-jalan.

"Yin, kita mau ngapain?" tanyaku sambil menggandeng tangannya bak sepasang kekasih. "Kamu maunya apa?" jawabnya sambil memberikan senyuman seribu arti.Waktu masuk, aku melihat ada iklan hotel dalam airport.

Kuajukan saranku untuk beristirahat di dalam hotel. Githa setuju saja dan kami memesan satu kamar. Sesampai di kamar, aku langsung merebahkan diri di ranjang setelah melepas kaos dan sepatu serta kaos kakiku.

Githa berdiri di depan ranjang dan menyalakan TV, acara yang ditayangkan adalah MTV. Dia berjalan pelan mendekati ranjang tanpa melepaskan kontak mata. Pinggulnya bergerak ke kiri dan kanan dengan seksinya.

Dengan gerakan yang mulus, dia mulai berdansa dengan seksinya. Satu persatu pakaiannya dilepas hingga badannya tidak terbungkus sehelai kain pun. Batang kemaluanku sudah tegang dan keras seperti baja. Perlahan-lahan dia naik ke ranjang.

Dengan kedua lututnya, dia menopang badannya dan dia mulai menunduk dan menyingkapkan selimut ranjang yang kupakai. Sabukku dilepasnya dan celanaku ditarik sampai ke lutut. Batang kemaluanku sudah sangat menonjol dan kepalanya keluar dari bagian atas celana dalamku.

Kutendang celanaku ke lantai. Celana dalamku dipelorotnya dan mulutnya yang kecil itu mulai mengulum batang kemaluanku. Semua itu dilakukannya tanpa melepaskan kontak matanya dari mataku.

Gerakan mulutnya yang naik turun diiringi dengan sedotannya yang keras sungguh membuat nafsuku meledak. Pinggulku, kugerakkan naik turun seirama dengan naik turun mulutnya.Kepalanya kupegang dan setiap kali kepalanya turun, kudorong kepalanya serendah mungkin agar seluruh batang kemaluanku ditelannya sedalam mungkin.

Akhirnya klimaksku mulai mendaki naik dengan tajam, gerakan mulutnya pun mulai cepat dan hisapan-hisapannya semakin keras.

"Yin, aku mau keluar nih, kalau kamu nggak lepasin entar aku bakal nyemprot di mulut kamu nih..." ucapku.Dia tidak menggubris peringatan yang kuberikan, bahkan gerakannya makin dipercepat.

"Ohhh yesss... arghhh..." Aku menjerit keras.

Aku seolah melayang di dimensi keempat dan kenikmatan yang kudapat tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata sewaktu aku menyemprotkan spermaku di dalam mulutnya yang mungil itu. Seluruh spermaku ditelannya dan batang kemaluanku dijilatinya agar tidak ada setetes sperma pun yang bakal tertinggal.

Dia memandangku dan bertanya, "Gimana, aku hebat nggak?" Hebat? Apa saja yang dilakukannya sangat hebat dan mungkin dia penjilat kemaluan laki-laki yang terbaik di dunia.

Aku tidak tahu berapa tahun dia latihan dan berapa batang kemaluan yang telah dia hisap."Yin, aku nggak tahu gimana bilangnya, kamu bukan hebat lagi, kamu the best."

"Jon, aku tahu kamu cuma basa basi saja. Tadi itu pertama kali aku nyoba ngisep kontol orang loh..."

"Yang bener saja, aku tidak percaya Yin. Masa aku cowok pertama yang kamu isep." "Okay deh Jon, aku ceritain deh. Aku dulunya ada banyak cowok, tapi semua tidak cocok.

Tiap kali aku sama cowok-cowokku yang dulu dating, kami sampai petting."

"Terus?"

"Yah, waktu sampai heavy petting, kusuruh cowokku 'ngisep aku' tapi tidak ada yang mau. Jadi satu persatu aku putusin." "Nah apa hubungannya sama kamu 'ngisep aku'?"

"Aku sayang sama kamu Jon, alasan kedua aku putusin cowok-cowokku yang dulu sebab aku tidak bisa ngelupain kamu. Aku masih inget waktu itu aku diganggu sama orang jahat di dekat Mal Galaxy, kamu ngebantu aku.

Kalau nggak ada kamu aku nggak tahu bakalan gimana. Sejak waktu itu aku mulai suka sama kamu."Hatiku mulai tersentuh dengan ucapannya itu. Kupeluk dia dan kucium bibirnya. Ciumanku mulai menjalar ke pipinya, kupingnya, dagunya dan lehernya.

Tak berapa lama, ciumanku sampai ke buah dadanya. Sambil kucium dan kujilat pentil buah dadanya yang mulai keras dan tegak, tanganku menelusuri perutnya, hutannya dan akhirnya jariku masuk ke dalam liang kemaluannya.

Dia mulai mendesah kecil. Tangannya mengelus kepalaku dan rambutku. Ciumanku mulai menurun ke bawah sampai ke liang kemaluannya. Klitorisnya yang telah berdiri tegak terlihat jelas. Kujilat sekali dan efeknya sangat dahsyat.

Jeritan-jeritan kenikmatan mulai keluar dari mulutnya. Sambil jariku keluar masuk lubangnya yang sempit itu, kujilati klitorisnya dengan penuh semangat. Bau odor seks yang keluar dari kemaluannya terasa harum di hidungku, menambah semangatku.

Jilatanku keras dan cepat. Irama sodokan jariku kupercepat dan kuperlambat, membuat Githa menggeliat dan menjerit keenakan."Jon, kontolmu Jon, masukin donk..."

"Yin, kamu udah pernah belum?"

"Kok nanya sih? Pasti belum lah!" "Yin, pertama kali bakal sakit loh." "Gini saja Yin, aku tiduran di ranjang and kamu mengangkang di atasku, terus kamu saja yang masukin agar kamu enak.

Kalau gitu, semua kamu yang ngatur. Kalau sakit diem, kalau udah biasa masukin lagi."

"Suka-suka kamu deh."Akhirnya dia pun mengangkang di atas batang kemaluanku dan berat badannya ditopang dengan lututnya.

Perlahan-lahan dia menurunkan badannya. Tangannya memegang batang kemaluanku dan diarahkannya ke dalam liang kemaluannya. Liang kemaluannya sempit sekali. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku ditelan lubang kemaluannya.

Kurasakan ada hambatan di depan batang kemaluanku, rupanya dia masih benar-benar perawan."Yin, waktu hymen kamu pecah kamu pasti ngerasain sakit jadi kamu kerasin saja agar sekali langsung masuk."

Dia menurut anjuranku dan menggunakan seluruh berat badannya dan gravitasi, dia menurunkan badannya. Pada saat yang sama, kuangkat lututku untuk menopang badannya. Jeritannya menggema di dalam kamar yang kecil itu dan seprei ranjang diremasnya kuat-kuat.

Kami beristirahat sebentar, agar liang kemaluannya bisa beradaptasi dengan adanya batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya. Setelah kurang lebih 3 menit, kutidurkan dia di ranjang. Kedua kakinya di pundakku dan aku bertanya,"Yin, aku mulai ya?"

"Iya Jon, tapi jangan sakiti aku."

"Tenang kalau sakit bilang saja, aku pasti stop."Pinggulku mulai kugerakan maju mundur dan jariku bermain dengan klitorisnya. Irama sodokanku dimulai dengan irama yang pelan, dan irama itu terkadang kupercepat.

Erangan kenikmatan menggema di dalam kamar. Githa telah klimaks dua kali selama irama ini kupermainkan. Akhirnya klimaksku pun telah mendekat. Iramanya kupercepat dan Githa pun mengikuti iramaku dan menarik tanganku agar batang kemaluanku bisa masuk sedalam mungkin.

Pas sebelum aku klimaks, kurasakan dinding lubang kemaluan Githa mengeras dan mencengkeram batang kemaluanku dengan kuatnya dan dia pun mendapatkan klimaksnya sekali lagi. Tidak lebih dari dua detik, aku pun menyemprotkan spermaku di dalam liang kemaluannya.

Badan kami penuh keringat dan aku pun berbaring di sebelah Githa. Kami kembali berpakaian dan bergegas menuju pesawat, sebab kami hanya ada sepuluh menit sebelum pesawatnya
Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa
Read more ...

Cerita Sex Rintihan Jilbab Kesakitan

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Rintihan Jilbab Kesakitan.  Aku pernah berkenalan dengan seorang perawat di salah satu kota S, namanya Yanti dia yang aku kenal tidak banyak bicara tapi kalau sudah kenal ternyata dia supel sekali asyk diajak ngobrol, dengan jilbab yang menghiasi wajahnya tubuhnya kalau aku lihat montok dan berisi, pernah suatu ketika aku melihat dia memakai baju biasa tanpa jilbab.

Cerita Dewasa Rintihan Jilbab Kesakitan

 cerita sex Jilbab, cerita Jilbab terbaru, cerita Jilbab ngentot, kumpulan cerita Jilbab ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata Jilbab ngentot, koleksi cerita Jilbab ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru.
Cerita Mesum Rintihan Jilbab Kesakitan
Saat itu aku sedang maen ke kosnya ternyta Yanti tambah seksi sekali, namun dia sadar akan kedatanganku jadi dia kembali masuk denga buru buru mengganti dengan pakain jilbabnya, seolah olah hasrtaku ingin menjamahnya, tapi dia selalu menolak ajakanku paling kita hanya berciuman dan tidak lebih dari itu.

Siang itu Yanti kuajak jalan-jalan ke Penggaron, hutan wisata yang ada di sebelah selatan kota S. Setelah parkir, akupun mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol dan strategis buat pacaran. Begitu dapat, kamipun asyik ngobrol ngalor ngidul. Tak sengaja, tanganku asyik mngelus-elus jemarinya di atas pahanya.

Yanti pun menatapku dengan sayu. Segera kucium bibirnya yang mungil. Yantipun menyambut dengan antusias. Lidahnya dengan lincah memilin lidahku hingga membuatku tersengal-sengal. Kudekap erat tubuhnya, sambil tangan kananku meremas remas pantatnya yang bahenol.

Tubuhnyapun bergetar hebat. Pelahan tanganku merayap menyingkapkan rok panjangnya dan ketelusupkan jemariku ke dalam celana dalamnya.

“ Mas, jangan ahhh, malu dilihat orang” katanya sembari mencoba mencegah tanganku beraksi lebih lanjut.

“Pindah tempat yuk, yang lebih aman,” ajakku sambil terus mencoba meremas payudaranya. Yanti langsung menggelinjang. Terasa buah dadanya yang ranum mulai mengeras, tanda bahwa Yanti mulai terangsang hebat.

Matanya yang sayu jadi tampak mesum, tanda Yanti dilanda rangsangan berahi yang amat dahsyat. Kamipun segera berbenah diri, membetulkan pakaian yang sempat berantakan.

Singkat cerita kami sampai di hotel P. Saat itu, hari sudah gelap. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran hotel, kamipun segera masuk ke kamar 122. Sejenak aku dan Yanti merasa canggung. Maklum, selama ini nggak pernah ke hotel, apalagi hanya berdua dengan cewek manis.

Sebenarnya aku sudah nggak tahan lagi ingin mencium dia lagi, dan tahu sendirilah selanjutnya. Tapi gimana lagi, lha wong Yanti hanya diam terpaku. Aku jadi malah takut, jangan-jangan dia menyesal telah mau kuajak nginap di hotel.

"Em, lagi mikirin apa? Kok termangu-mangu ?" tanyaku sambil menghampirinya. Yanti hanya memandangku sekilas.

"Sudahlah, tiduran saja di kasur, aku nanti biar tidur di sofa. Aku janji nggak akan menyentuhmu kecuali kalu Yanti pengen," kataku lagi sambil menuju sofa.

Tiba-tiba Yanti menangis dan kuberanikan diriku untuk memeluknya dan menenangkannya, Yanti tak menolaknya. Setelah agak tenang kubisiki dia bahwa dia tampak cantik malam ini. Yanti tersenyum dan menatapku dalam, lalu memejamkan matanya.

Kucium bibirnya, hangat, dia menerimanya. Kucium dia dengan lebih galak dan dia membalasnya, lalu tangannya merangkul pundakku. Kami berciuman dengan penuh nafsu. Kusibakkan jilbabnya yang menutupi lehernya lalu aku turun ke lehernya, Yanti pun mendesah “aaaahh.”

Mendengar itu kuberanikan meremas payudaranya yang montok. Yanti mendesah lagi, dam menjambak rambutku. Setelah beberapa saat kulepaskan dia. Yanti sudah terangsang, kulucuti pakaiannya, kaos dalamnya kulepas, bra-nya, tampaklah gunung kembar yang pas dalam genggaman tanganku, dengan punting merah-coklat cerah yang telah mengeras.

Kubasahi telunjukku dan mengelusnya, Yanti hanya memjamkan matanya dan menggigit bibirnya. Kulanjutkan melucuti rok panjangnya, dia memakai CD berenda putih transparan sehingga tampak sebagian rambut kemaluannya yang lembab. Sengaja aku tidak melepas jilbabnya, karena Yanti tampak lebih sexy dengan hanya memakai jilbab, namun telanjang bulat di bawahnya.

Dan WOW, ternyata jembutnya tidak terlalu lebat dan rapi, rambut di sekitas bibir kemaluannya bersih, hanya di bagian atasnya. Dan vaginanya tampak kencang dengan clitoris yang cukup besar dan mulai basah.

“Kamu rajin mencukur ya,” tanyaku. Dengan wajah memerah dia mengiyakan. Kupangku dia dan mulai menciuminya lagi, dan sapuan lidahku mulai kukonsentrasikan di puntingnya, kujilati, kutekan bahkan kugigit kecil dengan gigiku, Yanti menggelinjang keasyikan, dan mendesah-desah merasakan rangsangan kenikmatan.

Tangan kananku mulai memainkan clit-nya, ternyata sudah banjir, kugesek klitorisnya dengan jari tengahku, perlahan-lahan, desahan dan lenguhan makin sering kudengar. Seirama dengan sapuan lidahku di puntingnya, Yanti makin terangsang, dia bahkan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke payudaranya,

“Mas, enakh... banget...enakh...” Desahannya dan lenguhannya. Kira-kira 5 menit dari kumulai, badannya mulai mengejang dan “Mas... Yanti... mo... keluaaaarrr!” Sambil berteriak Yanti orgasme, denyutan vagina kurasakan di tangan kananku.

Yanti kemudian berdiri. “Sekarang giliranmu,” katanya. Celanaku langsung dilucutinya dan akupun disuruhnya berbaring.

Salah satu tangannya memegang kontolku dan yang lain memegang zakarnya, dia mengelusnya dengan lembut “mmmmhhh...,” desahku.

“Enak ya, Mas.” Akupun mengangguk. Yanti mulai menciumi kontolku dan mengelus zakarnya, dan mengemutnya dan mengocoknya dengan mulutnya. Terasa jutaan arus listrik mengalir ke tubuhku, kocokannya sungguh nikmat.

Aku heran, sejak kapan dia belajar mengulum dan mengocok kontol lelaki. Nampak dia sudah sangat mahir dalam urusan kocok mengocok kontol laki-laki.

“Belajar darimana Em, kok lincah banget?, tanyaku.

“Hmmm, aku pernah liat BF bareng teman-teman di kantor. Kayaknya enak banget, dan ternyata memang benar,”jawab Yanti sambil terus mengulum kontolku.

Yanti tampak sexy dengan jilbab yang masih terpasang diwajahnya, namun telanjang bulat di bawahnya. Bibirnya yang mungil sibuk melumat habis kontolku.

Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, sesekali kutekan kepalanya saat turun. Sesaat kemudian dia berhenti. “Mas, kontolmu lumayan besar dan panjang yach, keras lagi, aku makin terangsang nich.” Aku hanya tersenyum, lalu kuajak dia main 69, dia mau.

Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Yanti masih asyik mengocok kontolku. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang wanita, aku mulai menjilati vaginanya, harum sekali bau sabun dan bau cairan vagina, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras.

"Masss... I lovvve ittt, babbyy", dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena vaginanya sedang kujilat dan saat itulah saat pertama aku rasakan cairan wanita yang asam-asam pahit tapi nikmat.
Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum selesai dan aku bilang ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan.

Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan kontolku ke sela-sela pahanya yang menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Baru dijepit pahanya saja, rasanya sudah di awang-awang.

Apalagi kalau kontolku bisa masuk ke vaginanya. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku. Yanti memandangku dengan sayu. Segera kukulum puting payudaranya yang tampak mengeras itu, kontan dia melenguh hebat.

Ternyata puting payudaranya merupakan titik rangsangnya. Dengan diam-diam aku mulai memasukkan kontolku ke dalam vaginanya yang ternyata sudah basah lagi. Perlahan kumasukkan, terasa sekali denyutan vaginanya.

Vaginanya agak susah kumasuki, setelah kontolku masuk kira-kira ½, ada sedikit darah mengalir, ternyata dia perawan batinku, kubisiki dia “Em, sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yang sesunguhnya”. Pelahan kugoyang kontolku, maju mundur, keluar masuk ke liang vaginanya.

Rintihan kesakitan berubah menjadi desahan kenikmatan. Saat aku berada di atas Yanti, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya kontolku sudah masuk ke dalam vaginanya yang sangat nikmat itu.

"Ooohh nikmat sekali rasanya", dia juga menjerit "Ssshh", seperti ular yang sedang mendekati mangsanya. 10 menit kemudian, dia memelukku kuat-kuat dan aku bingung tapi aku juga mengalami perasaan yang aneh karena sepertinya ada yang mau keluar dari kemaluanku,

"Mass... aku mauuu keluaarrr" dan aku juga menjawabnya "Em... kayaknya akuu jugaa maauu..." nggak sampai 2 atau 3 menit, badanku dan Yanti sama-sama bergetar hebat dan aku merasakan ada yang keluar dari kontolku ke dalam vaginanya dan aku juga merasa ada yang membasahi kontolku dengan amat sangat.

Setelah itu, Yanti terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium-ciumi bibirnya yang kecil dan mukanya. Aku mulai membelai-belai rambutnya dan karena dia terlalu kelelahan dia tertidur pulas.
Badan kami penuh keringat dan aku pun berbaring di sebelah Githa. Kami kembali berpakaian dan bergegas menuju pesawat, sebab kami hanya ada sepuluh menit sebelum pesawatnya
Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa
Read more ...